Assembly Point

Semakin banyaknya gedung bertingkat tentu harus diimbangi dengan keamanan dan keselamatan yang memadai. Gedung bertingkat yang dapat menampung banyak orang berpotensi menimbulkan korban apabila terjadi keadaan darurat. Maka, diperlukan perencanaan proses evakuasi yang baik agar korban jiwa atau kerugian lainnya dapat diminimalkan.


Selain mengantisipasi keadaan darurat dengan menyediakan sarana pencegahan dan penanggulangan kebakaran, menata akses evakuasi juga penting untuk mempercepat proses evakuasi penghuni sehingga akan memperkecil risiko timbulnya korban.
Jalur evakuasi pada sebuah gedung harus berfungsi berdasarkan prosedur evakuasi dengan memberikan kemudahan pada orang yang menggunakannya. Penghuni gedung bertingkat harus dapat menyelamatkan diri secepatnya ketika terjadi keadaan darurat. Dengan adanya jalur evakuasi yang memperlihatkan arah keluar gedung atau arah menuju tempat berlindung yang aman dapat membantu penghuni gedung untuk menyelamatkan diri.


Sarana tersebut harus dapat menjamin kemudahan pengguna gedung untuk melakukan evakuasi dari dalam gedung secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat. Penyediaan sarana evakuasi harus disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi gedung, jumlah dan kondisi pengguna gedung, serta jarak pencapaian ke tempat yang aman. Sarana pintu keluar darurat dan jalur evakuasi juga harus dilengkapi dengan tanda arah yang mudah dibaca dan jelas.


Assembly point adalah salah satu sarana yang harus disediakan untuk digunakan sebagai tempat berkumpul pada saat keadaan darurat. Peletakan assembly point memiliki beberapa ketentuan, yaitu :

  1. Harus berlawanan dengan arah angin
    Letak assembly point yang ideal ialah tidak searah dengan arah angin. Hal ini dilakukan untuk menghindari bahaya api atau asap dari kebakaran. Untuk data arah anginnya dapat kita ketahui melalui BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika).
  2. Cukup jauh dari bangunan
    Hal ini dimaksudkan agar assembly point aman dari bahaya reruntuhan gedung. Sedangkan jarak maksimalnya ialah sejauh 23 meter (NFPA 101 Life Codes, 2005).
  3. Memiliki akses yang mudah
    Lokasi assembly point harus memiliki akses yang mudah menuju ke tempat yang lebih aman serta tidak menghalangi lintasan kendaraan penanggulangan bencana.
  4. Perhitungan waktu menuju assembly point
    Menurut Ramli (dalam Pratama, 2016:23), untuk bangunan dengan resiko bahaya kebakaran ringan maksimal lamanya evakuasi adalah 3 menit,bangunan dengan resiko bahaya kebakaran sedang adalah 2,5 menit dan untuk bangunan dengan tingkat bahaya kebakaran tinggi adalah 2 menit.

Sumber :
https://safetysign.co.id/news/403/Standar-Sarana-Evakuasi-Keadaan-Darurat-Gedung-Bertingkat-Bagaimana-Menurut-Regulasi


NFPA 101 life Codes, 2005


Pratama A., 2016. PERANCANGAN SARANA PENYELAMAT DIRI DAN KEBUTUHAN APAR PADA DARURAT KEBAKARAN DI KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS II BALIKPAPAN.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Name *
Email *
Website