Detektor : Instalasi Alarm Kebakaran Automatik

Saat ini, begitu banyak kasus kebakaran terjadi di daerah pemukiman, tempat kerja, hutan, dan lain sebagainya. Kebakaran sangat merugikan masyarakat, perusahaan, pekerja maupun kepentingan pembangunan nasional. Oleh karena itu, perlu manajemen kebakaran yang baik dan sesuai dengan standar yang berlaku dengan menggunakan alat proteksi kebakaran. Salah satu alat proteksi kebakaran yang memadahi adalah instalasi alarm kebakaran automatic.

Instalasi Alarm Kebakaraan Automatik adalah sistem atau rangkaian alarm kebakaran yang menggunakan detektor panas, detektor asap, detektor nyala api dan titik panggil secara manual serta perlengkapan lainnya yang dipasang pada sistem alarm kebakaran. Instalasi alarm kebakaran automatic telah diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor : PER.02/MEN/1983 Tentang Instalasi Alarm Kebakaran Automatik. Dikeluarkannya peraturan menteri yang mengatur tentang instalasi alarm kebakaran automatik bertujuan untuk kesiap siagaan pemberantasan pada mula terjadinya kebakaran menggunakan instalasi alarm kebakaran automatic yang memenuhi syarat-syarat keselamatan kesehatan kerja.

Standar dari instalasi alarm kebakaran automatic telah tertuang dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor : PER.02/MEN/1983. Dari peralatan instalasi alarm kebakaran automatic hingga detail perencanaan, pemasangan, pemeliharaan, dan pengujian instalasi alarm kebakaran automatik. Peralatan dari instalasi alarm kebakaran automatic adalah sebagai berikut:
1. Detektor lini adalah detektor yang unsur perasa atau penginderaannya berbentuk batang atau pita;
2. Titik panggil manual atau tombol pecah kaca adalah alat yang bekerja secara manual dan alarmnya tidak dapat dioperasikan sepanjang kaca penghalangnya belum dipecahkan;
3. Ruang kontrol adalah ruangan dimana panil indikator ditempatkan;
4. Detektor adalah alat untuk mendeteksi pada mula kebakaran yang dapat membangkitkan alarm dalam suatu sistem;
5. Panil indikator adalah suatu panil kontrol utama yang dilengkapi indikator beserta peralatannya;
6. Detektor panas adalah suatu detektor yang sistem bekerjanya didasarkan atas panas;
7. Detektor nyala api (flame detektor) adalah detektor yang sistem bekerjanya didasarkan atas panas api;
8. Detektor asap (smoke detector) adalah detektor yang sistem bekerjanya didasarkan atas asap;
9. Panil mimik adalah panil tiruan yang memperlihatkan indikasi kelompok alarm kedalam bentuk diagram atau gambar;
10. Panil pengulang adalah suatu panil indikator kebakaraan duplikat yanga hanya berfungsi memberi petunjuk saja dan tidak dilengkapi peralatan lainnya;
11. Tegangan ekstra rendah adalah tegangan antara fasa dan nol, paling tinggi 50 volt;
12. Sistem penangkap asap (sampling device) adalah suatu rangakaian yang terdiri dari penginderaan dengan alat-alat penangkap asapnya.

Setiap sistem alarm kebakaran harus mempunyai gambar instalasi secara lengkap yang mencantumkan letak detektor dan kelompok alarm. Dalam satu sistem alarm kebakaran boleh dipasang detektor panas, asap dan nyala secara bersama dengan syarat tegangannya harus sama. Hal tersebut dapat dilakukan dengan ketentuan satu detektor asap atau satu detektor nyala dapat menggantikan dua detektor panas. Detektor dapat dilengkapi dengan alat indikator untuk mengurangi kemungkinan terjadinya operasi palsu, dengan syarat bila ada gangguan pada indikator tersebut tidak mempengaruhi berfungsinya detektor. Dimana detektor, pemancar berita kebakaran, dan panil indikator harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga alat tersebut secara normal tidak terganggu oleh getaran atau goncangan yang dapat menimbulkan operasi palsu dari sistem.

Pemeliharaan dan pengujian berkala harus dilakukan pada instalasi alarmkebakaran automatik secara mingguan, bulanan dan tahunan.
1. Pemeliharaan dan pengujian mingguan antara lain meliputi : membunyikan alarm secara simulasi, memeriksa kerja lonceng, memeriksa tegangan dan keadaan baterai, memeriksa seluruh sistem alarm dan mencatat hasil pemeliharaan serta pengujian buku catatan.
2. Pemeliharaan dan pengujian bulanan antara lain meliputi : menciptakan kebakaran simulasi, memeriksa lampu-lampu indikator, memeriksa fasilitas penyediaan sumber tenaga darurat, mencoba dengan kondisi gangguan terhadap sistem, memeriksa kondisi dan kebersihan panel indikator dan mencatat hasil pemeliharaan dan pengujian dalam buku catatan.
3. Pemeliharaan dan pengujian tahunan antara lain meliputi : memeriksa tegangan instalasi, memeriksa kondisi dan seluruh detektor serta menguji sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) % detektor dari setiap kelompok instalasi sehingga selambat-lambatnya dalam waktu 5 (lima) tahun, seluruh detektor sudah teruji. Pemeliharaan dan pengujian tahunan dapat dilakukan oleh konsultan kebakaran atau organisasi yang telah diakui oleh Direktur atau pejabat yang ditunjuk.

Sumber :
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor : PER.02/MEN/1983 Tentang Instalasi Alarm Kebakaran Automatik

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Name *
Email *
Website