K3 Tangga dan Perancah (Scaffolding)

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam K3 Konstruksi pastinya kita pernah mendengar mengenai Tangga, Perancah maupun Scaffolding. Jadi, apa yang anda pikirkan jika mendengar tangga / scaffolding? Pasti berhubungan dengan ketinggian bukan?

Seperti apakah definisi ketinggian menurut PERMENAKER Nomor 9 Tahun 2016?

Berbicara mengenai definisi “ketinggian”, banyak perusahaan dan para pekerja mendefinisikan “ketinggian” adalah pekerjaan dengan minimum tinggi 1.5 meter, 1.8 meter atau 2 meter. Namun dalam Permenaker Nomor 9 Tahun 2016, batas ketinggian itu tidak ada. Adanya perbedaan ketinggian yaitu yang memiliki potensi jatuh, baik jatuh di atas permukaan tanah maupun perairan, dan menyebabkan tenaga kerja atau orang lain meninggal atau cidera.

Mari menyimak jurnal berikut :

Menurut International Labour Organization (ILO) tahun 2015, diperkirakan secara global ada 60.000 kecelakaan kerja fatal per tahunnya. Sekitar 1 dari 6 kecelakaan fatal yang dilaporkan, terjadi pada sektor konstruksi. Health and Safety Executive (HSE) di Inggris tahun 2014 mengemukakan bahwa jenis pekerjaan dengan jumlah kematian tinggi yang dialami oleh pekerja diantaranya yaitu roofers, carpenters, joiners dan construction. Dari 142 kematian, penyebab utama disebabkan karena jatuh dari ketinggian sebesar 45%, lainnya merupakan kontak dengan mesin atau listrik serta kejatuhan benda masing-masing mempunyai persentase sebesar 7%. Sedangkan kecelakaan non-fatal dengan luka berat yang terjadi pada tahun 2013-2014 yaitu 150 per 100.000 pekerja. Dari luka berat yang terjadi 31% diantaranya terjadi karena jatuh dari ketinggian, 27% karena terpeleset, tersandung dan terjatuh, 13% karena kejatuhan benda, dan 9% karena pekerjaan handling (ILO, 2015).

Berdasarkan data Occupational Safety and Health Administration (OSHA) di Amerika menunjukkan bahwa jumlah kematian total dalam sektor konstruksi pada tahun 2014 sebesar 874 jiwa. Dari jumlah kematian tersebut 349 jiwa (39,9%) di sebabkan karena jatuh dari ketinggian, 74 jiwa (8,5%) karena listrik, 73 jiwa (8,4%) kejatuhan benda dan 12 jiwa (1,4%) karena kecelakaan lain (OSHA, 2014). Kemungkinan kematian dalam sektor konstruksi adalah lima kali lebih mungkin dibandingkan dengan industri manufaktur, sedangkan risiko cedera berat adalah dua setengah kali lebih tinggi dari pada industri lain (Kanchana, 2015).

Jumlah data penyebab kecelakaan kerja pada sektor konstruksi di Great Britain, kecelakaan jatuh dari ketinggian pada tahun 2013 dengan tingkat keparahan kecelakaan fatal sebesar 14 pekerja dengan cedera berat sebesar 587 pekerja. Pada tahun 2014 tingkat keparahan kecelakaan fatal sama dengan tahun sebelumnya yaitu 14 pekerja, sedangkan cedera berat yang dialami mengalami peningkatan menjadi 643 pekerja (HSE, 2014).
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan tahun 2015, menyatakan bahwa setiap 100.000 kasus kecelakaan terhadap tenaga kerja di Indonesia, 30% diantaranya terjadi di sektor konstruksi (BPJS Ketenagakerjaan, 2015). Kementrian Ketenagakerjaan tahun 2014 mengatakan bahwa jumlah kecelakaan kerja yang dialami pekerja konstruksi relatif tinggi yaitu 31,9% dari total kecelakaan, dengan jenis kasus kecelakaan tertinggi yaitu jatuh dari ketinggian 26%, terbentur 12% dan tertimpa 9% (Republika, 2015).”

Dari data yang telah dikumpulkan oleh Nunuk Safitri dan Evi Widowati dalam jurnal yang berjudul Penerapan Risk Management Pada Pekerjaan di Ketinggian Berdasar SNI ISO 31000:2011 tersebut dapat dilihat bahwa sampai saat ini masih banyak terjadi kecelakaan pada ketinggian, hal ini terjadi karena perusahaan belum menerapkan regulasi mengenai K3 bekerja pada ketinggian dengan maksimal, atau dikarenakan para pekerja yang lalai dalam mentaati peraturan yang ada.

Biasanya bekerja di ketinggian menggunakan alat bantu tangga kerja dan perancah sebagai tempat bertumpu, lalu apasih yang dimaksud perancah dan tangga kerja?
Menurut Permenaker RI No. PER.01/MEN/1980 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan, Perancah (Scaffold) ialah bangunan peralatan (platform) yang dibuat untuk sementara dan digunakan sebagai penyangga tenaga kerja, bahan-bahan serta alat-alat pada setiap pekerjaan konstruksi bangunan termasuk pekerjaan pemeliharaan dan pembongkaran.

Penggunaan perancah dan tangga yang aman sebagai upaya pencegah kecelakaan
1. Material perancah yang kuat
2. Pondasi dan Struktur yang kuat dan stabil
3. Lantai kerja yang kuat dan aman
4. Scaffolder mentaati standar dan peraturan K3
5. Lingkungan kerja bersih dan rapi
6. Beban sesuai kapasitas

Alat Pelindung Diri Bekerja di Ketinggian
1. Pelindung Kepala (Safety Helmet)
2. Pelindung Kaki (Safety Shoes)
3. Pelindung Tangan (Gloves)
4. Baju Kerja
5. Sabuk Penyelamat (Safety Belt)
6. Full Body Harness

Pada tanggal 10 Maret 2016 lalu, Menteri Tenaga Kerja mengesahkan Permenaker Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam pekerjaan di ketinggian. Permenaker Nomor 9 tahun 2016 diterbitkan untuk melaksanakan Pasal 2 ayat (2) huruf i dan Pasal 3 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Apa saja dasar hukum yang dapat digunakan sebagai acuan bekerja di ketinggian?
Dasar hukum bekerja di ketinggian, diantaranya:

1. UU Keselamatan Kerja N0.1/1970, pasal 4
2. Permenaker No. 01/MEN/1980, K3 Konstruksi Bangunan
• Bab Perancah. Pasal 12 s.d. 23
• Bab Tangga, Pasal 25 s.d. 27
• Bab APD. Pasal 99
3. Keputusan Bersama Menaker dan Men-PU
No. KEP 174/MEN/1986, No 104/KTPS/1986
• Bab III tentang Perancah
• Bab IV tentang Tangga Kerja
4. Permenaker No,9/MEN/2016, tentang K3 dalam Pekerjaan pada Ketinggian.
5. Dan masih banyak lagi

Sekarang pun sudah banyak perusahaan yang mengadakan pelatihan maupun sertifikasi K3 bekerja pada ketinggian atau lebih umum disebut K3 Scaffolding.

Sumber Referensi :

Asosiasi Ahli Muda K3 Konstruksi. (2018). K3 Tangga & Perancah. Retrieved from this link

Kementerian Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia. (1980). Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Tentang Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Konstruksi Bangunan Menteri (Vol. 2). Jakarta.

Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Dalam Pekerjaan Pada Ketinggian. Jakarta.

Safitri, N., & Widowati, E. (2017). Penerapan Risk Management Pada Pekerjaan Di Ketinggian Berdasar Sni Iso 31000: 2011. Higeia Journal Of Public Health, 1(2), 77–88.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Name *
Email *
Website